1. Menurut cognitive theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia .
Jawab : Mayer (2009) menyatakan tentang tiga pandangan yang mendasari teori kognitif suatu multimedia pembelajaran (multimedia learning), yang tersaji dalam tabel 1.
Tabel 1: Tiga Asumsi untuk Teori
Kognitif Multimedia LearningAsumsi
Asumsi
|
Deskripsi
|
Saluran ganda
|
Manusia memiliki saluran terpisah untuk memproses
informasi visual dan informasi auditori
|
Kapasitas terbatas
|
Kapasitas terbatas Manusia memiliki keterbatasan
dalam jumlah informasi yang bisa mereka proses
dalam masing-masing saluran pada waktu yang
sama
|
Pemrosesan aktif
|
Manusia melakukan pembelajaran aktif dengan
memilih informasi masuk yang relevan, mengorganisasikan informasi-
informasi tersebut ke dalam representasi mental
yang koheren, dan memadukan representasi mental tersebut
|
Asumsi saluran ganda (dual channel assumption)
beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk
materi visual dan auditori. Asumsi kedua adalah bahwa manusia mempunyai
keterbatasan atas jumlah informasi yang bisa diproses dalam masing-masing
saluran pada suatu waktu tertentu.Saat ilustrasi atau gambar disajikan, siswa dapat
menampung hanya beberapa citra saja di memori kerja dalam suatu waktu. Saat
narasi disajikan, siswa juga hanya dapat menampung sejumlah kecil kata-kata di
memori kerjanya dalam suatu waktu. Asumsi ketiga bahwa manusia secara aktifmelibatkan
diri dalam pemrosesan aktif untuk mengkontruksi representasi mental yang saling
terkait terhadap pengalaman mereka. Proses kognitif aktif meliputi: memberikan
perhatian, menata informasi yang masuk dan memadukan antara informasi yang
masuk dengan pengetahuan lainnya.
Bisa disimpulkan bahwa manusia adalah
prosesor aktif yang berusaha untuk menalar dan memasukakalkan setiap presentasi
multimedia(Mayer, 2009)Mendesain multimedia pembelajaran yang mengacu pada
teori kognitif Multimedia Learning, Mayer (2009) mengemukakan tujuh prinsip
desain multimedia yaitu prinsip multimedia, prinsip keterdekatan ruang, prinsip
keterdekatan waktu, prinsip koherensi, prinsip modalitas, prinsip redundansi
dan yang terakhir prinsip perbedaan
individual.
Contoh nya pada materi Gaya antar molekul yaitu bagian dari materi
ikatan kimia yang mempunyai keabstrakan yang tinggi, sehingga banyak siswa yang
mengalami kesulitan ketika mempelajari gaya antarmolekul. Berdasarkan
penelitian Hans-Jürgen Schmidt, Birgit Kaufmanna and David F Treagustb (2009)
menyebutkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memprediksi titik didih/titik
leleh berdasarkan gaya antarmolekul dari senyawa organik, selain itu juga siswa
mengalami miskonsepsi pada ikatan hidrogen. Menurut mereka (siswa) ikatan
hidrogen hanya terjadi pada atom hidrogen dan oksigan saja. Terjadinya
miskonsepsi atau kesulitan ini disebabkan karena materi yang bersifat abstrak
sehingga siswa tidak dapat memvisualisasikan kejadian yang sebenarnya, cara
pengajaran yang konvensional dan juga kurangnya penggunaan media pembelajaran
yang dapat memvisualisasikan konsep-konsep yang abstrak pada konsep gaya
antarmolekul.
Materi-materi tersebut apabila disajikan secara konvensional dan tanpa menggunakan media pembelajaran yang sesuai, akan sulit untuk menampilkan kejadian yang terjadi pada tingkat mikro. Akibatnya siswa merasa kesulitan ketika harus memahaminya. Dengan memvisualisaikan mengunakan (teknik animasi) konsep tersebut, maka dapat diperlihatkan hubungan yang terjadi pada tingkat sub-mikro dengan tingkat makro. Menurut Sweller (dalam Tasker, 2006), tingkat kompleksitas informasi atau materi yang sedang dipelajari (muatan kognitif intrinsik), dapat diminimumkan melalui teknik penyajian materi yang baik. Penyajian secara multimedia termasuk didalamnya animasi, dinilai mampu membantu siswa memahami konsep yang selama ini dianggap sulit. Tentunya multimedia tersebut harus dirancang dengan baik.
Jawab :
Teori dual coding yang dikemukakan Allan Paivio
(Paivio, 1971, 2006) menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang
diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal
seperti teks dan suara, dan channel visual (nonverbal image)
seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini
dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara
terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi
tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal
memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal
memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory
memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan
verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational
connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai
dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal,
representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal,
representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut
dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian
dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal
disebut logogen sedangkan
representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal
disebut imagen (lihat
Gambar).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget
tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan
media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham,
2002; Dede, 2000; Hogue, (?)). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan
dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki
kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang
menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau
ilustrasi saja.
Menurut teori Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio,
kedua channel pemrosesan informasi tersebut tidak ada yang
lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan Sweller tahun 2003 dalam
(Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset untuk melihat apakah pembelajaran yang
dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu kegiatan belajar. Carlson dan
kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram lebih lengkap dibandingkan teks,
dan dengan diagram seseorang mampu menghubungkan antara elemen yang satu dengan
yang lainnya, maka orang yang belajar melalui diagram akan lebih berprestasi
dibandingkan dengan orang yang belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa untuk bahan belajar yang memiliki tingkat
interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar dengan menggunakan diagram
memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan
teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat interaktivitas yang
tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi yang signifikan.
Sebagai tambahan kesimpulan dari teori dual coding ini
jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat
dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar
dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah
dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa
seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga
memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan
dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan
bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih
mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori Dual Coding juga menyiratkan
bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan
merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan
nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti
berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari
beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal)
dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak
pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
bagaimana cara memaksimalkan kerja otak dalam pemerolehan informasi? apakah ada peran multimedia didalamnya?
BalasHapusTeori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah :
Hapus1. Menarik perhatian
2. Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa
3. Merangsang ingatan pada pra syarat belajar
4. Menyajikan bahan peransang
5. Memberikan bimbingan belajar
6. Mendorong unjuk kerja
7. Memberikan balikan informatif
8. Menilai unjuk kerja
9. Meningkatkan retensi dan alih belajar
Dalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial.
Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desain pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi .